CERITA
BOLANG, DIES NATALIES MUSEUM KONPERENSI ASIA AFRIKA KE-59

-Adi Moch Priyanto-

Mentari terbit dan menampakkan cahaya yang indah pagi itu. Tidurku berakhir menyambut kehangatan sinarnya dari embun pagi yang menyelimuti pagi. Melihat waktu, tak punya banyak untuk mempersiapkan petualangan hari itu. Aku bergegas, aku bersiap, aku berangkat menuju lokasi penjelajahan hari itu. Sebelum melangkah berdoa agar perjalanan lancer dan punya arah orientasi yang jelas dengan hasil yang sesuai harapan, ucapku dalam doa pagi itu. Setelahnya kuserahkan pada yang Maha Kuasa aku mulai melangkah dengan bekal kepo yang akan ditutup pengetahuan ketika pulang.

Perjalanan yang lengang mempercepat laju kendaraanku dengan memperhatikan dan taat pada peraturan di jalan. Banyak moment yang aku temui selama perjalanan, mereka memberikan inspirasi dan kesdaran tentang kehidupan yang bukan alam mimpi ini. Mereka saksi dari hakikat kehidupan yang sebenarnya, yang tak mudah orang lain lakukan. Nikmatnya perjalanan pagi itu, sampai tak terasa telah sampai di lokasi penjelajahan. Museum Konperensi Asia Afrika Koota Bandung.

Sambutan ramai, sambutan hangat, teriakan orang terdengar meriah di tempat itu. Aku kunjungi teman-teman yang sudah menungguku lebih dulu. Sekarang kita siap untuk berpetualang. Menjadi super kepo untuk pengetahuan yang luar biasa. Menjadi nakal melanggar aturan yang membatasi gerak pintar kita. Bayangan yang menyenangkan untuk diwujudkan.

Sebelum petualangan dimulai, pada acara Dies Natalies Museum Konperensi Asia Afrika ke-59 dimeriahkan oleh berbagai macam penampilan baik di stage performance maupun street performance. Di Panggung banyak penampilan mulai dari music, tarian sampai perkusi dengan keragaman variannya. Anak-anak hingga orang dewasa, tidak luput untuk memberikan penampilan terbaiknya kepada pengunjung. Penampilan pun dihiasi dengan berbagai macam budaya yang ada di masing-masing Negara di Asia dan Afrika. Semakin membuat menarik dan memeriahkan acara.

Di street performance juga tidak kalah menarik dan meriah dengan di panggung. Di jalanan banyak penampilan dari komunitas-komunitas dengan berbagai atraksinya. Mulai dari komunitas di Kota Bandung, sampai dari luar Kota Bandung. Sama halnya dengan di panggung, anak-anak hingga orang dewasa pun ikut terlibat memberikan penampilan terbaiknya. Menarik bukan ? Petualangan pun tak kalah menarik.

Petualangan pertama, pameran museum menjadi objek kepo yang kita mulai. Bayak dokumen yang berisikan jawaban-jawaban kepo kita, banyak replika yang menggambarkan dan membawa kita pada waktu dahulu. Selain itu banyak juga objek yang bisa dijadikan elemen untuk berfoto bersama. Namun, tak hanya mengabadikan objek dan diri kita juga yang kita foto. Pengunjung lain pun sama halnya, bahkan ada yang minta tolong untuk mengabadikan gambar mereka di tengah keramaian pameran.

Petualangan kedua, bagian gedung museum objek kepo selanjutnya. Bermula dari sebuah tertawaan ketika melihat orang yang dipersepsikan patung, padahal itu memang orang sebenarnya nyata. Melihat denah dan petunjuknya, kita mulai menjelajah dari tempat satu ke tempat yang lain. Ada ruang utama yang besarnya cukup besar, ada ruang audio visual, ruang pembelajaran, perpustakaan dan lorong tempat berfoto sambil menertibkan pengunjung anak-anak. Ketika tengah asyik berfoto di atas podium layaknya delegasi luar negeri, petugas dating menegur kenakalan kita yang menurutku positif. Merespon itu, kita move on ke tempat menarik lainnya. Berfoto bersama objek tempo dulu sampai objek modern saat ini.

Petualangan terakhir, menyusuri ruang rahasia gedung yang misterius. Setelah rasa kepo telah sampai pada puncaknya, seakan semua sudut gedung ini kami masuki. Mulai dari yang diperbolehkan sampai dengan yag dilarang. Seakan-akan memiliki pemikiran yang tidak benar pada akhirnya. Namun demi pengetahuan dan pertimbangan tidak mengganggu ketertiban yang telah ada, lakukan dengan baik dan rapi. Lelah dan lapar menjadi akhir dari petualangan ini. Dan hujan menjadi teman menunggu untuk kembali pulang ke tempat asal.