ARTIKEL
Oleh : Adi Moch Priyanto

“Kaum mudalah yang sering tampil ke depan, secara heroik tanpa menghiraukan bahaya, mengambil inisiatif baru, menjadi aktivis yang lincah dan militan”
(Alfian, 1990:213).

Perbincangan mengenai perubahan, kebangkitan dan harapan, selalu melekat pada diri seorang pemuda. Status yang melekat sebagai jembatan antara usia sebelum dan sesudahnya. Oleh karenanya, tanggung jawab mulai melekat untuk mementingkan kedua usia tersebut. Gerakan yang dilakukan pemuda biasanya disematkan dengan istilah pelopor.

Kepeloporan dapat bermakna sikap mental yang menampilkan keberanian untuk mengambil prakarsa (berinisiatif), mau dan mampu menjadi pembaru dan membimbing pengikutnya ke dalam keadaan yang lebih baik (Affandi, 2011:20). Secara tidak langsung, istilah-istilah yang disematkan kepada pemuda ini merupakan karakteristik yang mau tidak mau dimiliki oleh seorang pemuda. Karakteristik ini yang akan menjadi ciri dan batasan jalan atau gerakan yang akan dilakukannya. Ketika karakteristik ini mulai hilang, maka patut dipertanyakan kepemudaannya.

Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai derajat karakteristik yang sejati adanya. Upaya tersebut dapat dimulai dari hal yang terkecil, yang nantinya akan berkembang pada upaya yang lebih besar. Tahapan tersebut merupakan jalan agar karakteristik tersebut memiliki konten. Salah satu upaya tersebut terdapat dalam sebuah gerakan mahasiswa dan mungkin terdapat dalam setiap organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.

Organisasi kemahasiswaan sebagai wadah apresiasi pemuda, diharapkan dapat menjadi mediator dalam mengembangkan potensi mahasiswa ke jenjang yang lebih besar. Potensi yang mulai ditumbuhkan di organisasi tingkat jurusan atau himpunan masing-masing, dapat terwadahi di sini. Keikutsertaan dalam pergerakan mahasiswa, menjadi modal awal seorang mahasiswa untuk berkontribusi dalam kebangkitan Indonesia. Dengan mengabdika diri dalam organisasi ini, diharapkan dapat terus berlanjut ke jenjang apresiatif berikutnya.

Selain itu, organisasi kemahasiswaan dapat menjadi sarana belajar untuk menjadikan diri mahasiswa agar memenuhi karakteristik yang di sebutkan di atas. Mahsiswa juga dapat ikut berkontribusi dalam setiap kegiatan yang diadakan dalam rangka aktiv menuju kepeloporan seorang pemuda. Hal lain yang tidak kalah penting adalah banyak orang yang akan berbagi pengalaman yang membuat diri kita berkembang, lincah dan militan.

Bersama organisasi dan mahasiswa mari berkembag menjadi pribadi yang memiliki keinginan untuk merubah kondisi dirinya, lingkungannya dan negaranya Indonesia.

…..