KAMPANYE POLITIK, HARUS CERDIK!

Oleh :
Adi Moch Priyanto

Kecerdikan bukan saja dilakukan oleh si Kancil dalam cerita dongeng anak-anak. Ternyata dalam dunia politik, kecerdikan harus dilakukan dalam kampanye politik agar pesan politik tersampaikan dengan baik. Proses ini akan menentukan efektifitas komunikasi politik yang disampaikan melalui kampanye, sehingga mampu menarik perhatian publik untuk memilihnya dalam pemilihan umum.

Kampanye politik merupakan sarana sosialisasi partai politik kepada masyarakat. Konten atau pesan yang disampaikan beragam, mulai dari visi dan misi, program, calon atau kader yang akan maju dalam pemilu, sampai pada calon presiden dan/atau calon wakil presiden. Proses komunikasi dalam kampanye, terjadi ketika pihak partai memberikan stimulus yang kemudian direspon oleh masyarakat. Kegiatan ini dapat berulang, sehingga menciptakan sebuah siklus komunikasi yang transaksional. Kecenderungan komunikasi model ini banyak digunakan dalam kampanye politik masa kini.

Fenomena kampanye politik semakin menunjukan perannya dalam mewadahi aspirasi rakyat. Kedekatan para calon legislatif maupun calon eksekutif, bayak ditunjukan dalam kampanye. Hal ini dinilai efektif, ketimbang dengan memasang iklan di media. Fenomena ini dikenal dengan istilah “blusukan”. Namun, kampanye seperti apakah yang dinilai cerdas (cerdik) dan efektif ?

Pada dasarnya seseorang yang menggunakan dan memanfaatkan sarana dan fasilitas yang ada dengan baik, maka hasilnya akan baik juga. Kampanye yang memanfaatkan yang ada dengan biaya yang efektif, tentunya akan lebih baik. Seperti yang dilakukan oleh Obama dahulu, memanfaatkan media sebagai perhatian penting masyarakat di Amerika waktu itu. Dengan terobosan dan strateginya, kampanye Obama sukses menarik perhatian publik untuk memilih dirinya menjadi presiden Amerika.

Ketika di Indonesia menilai blusukan itu efektif, tidak dapat dipungkiri bahwa media memiliki peran yang tidak kalah penting. Oleh karenanya, ketika kedua sarana ini dipadukan, maka keefektifan akan melebihi sebelumnya. Ketika blusukan tidak diliput media, maka yang mengetahui hanya masyarakat yang didatangi saja. Sementara target keselurhan kampanye tidak dapat terpenuhi. Sifat universal dan tayangan serentak memiliki nilai kampanye yang bagus.

Kendati demikian, setiap perilaku yang berlebihan maka hasilnya tidak akan baik. Kampanye yang menggunakan media secara berlebihan, justru akan memunculkan pemikiran-pemikiran di masyarakat yang tidak baik kepada calon. Misalnya calon dinilai terlalu ambisius. Oleh karenanya, disinilah kecerdikan dalam kampanye harus dilakukan.

Fenomena media social sebagai cerminan era informasi, turut meramaikan proses kampanye politik di dunia maya. Hal ini cukup menarik perhatian publik perihal konten yang disampaikan melalui twitter, facebook, ataupun media social lainnya. Banyak figure yang memprioritaskan penggunaan media social sebagai proses kampanye. Akan tetapi saya menilai, penggunaan media social juga harus dibarengi dengan teknik yang mencerminkan kedekatannya dengan rakyat. Hal ini dikarenakan konten yang disampaikan haruslah senada seperti berbicara dengan rakyat.

Kampanye politik pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan bayak simpati public agar mendapat banyak suara yang di dapat saat pemilihan umum. Banyak cara dan bentuk kampanye yag dapat digunakan oleh masing-masing figure beserta timnya. Kecerdikan dalam memanfaatkan cara dan bentuk tersebut, akan menentukan efektifitas kampanye yang dilakukan. Baik melalui media maupun bercengkrama secara langsung dengan rakyat. Hanya saja, lakukanlah kesemuanya dengan wajar dan proporsional, tidak berlebihan dan mampu menempatkan diri dengan baik di tengah rakyat pada masa kampanye.