MORAL BAIK, BANGSA BAIK

Estafet kebangsaan dalam suatu Negara digantungkan terhadap bagaimana mengembangkan potensi diri generasinya agar dapat menjadi penerus yang dapat membawa bangsanya kearah yang lebih baik. Salah satu usaha untuk memanifestasikan harapan tersebut adalah melalui pendidikan. Pendidikan sebagaimana mestinya merupakan usaha dasar yang urgen untuk memanusiakan manusia serta menghidupkan kehidupan. Pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan manusia masa depan yang sehat, cerdas, terampil, tangguh, mandiri, peduli sesama, cinta damai, berbudi pekerti dan sifat positif lainnya.

Dalam pengaertian pendidikan terdapat komponen serta unsur yang menjadikan manusia menjadi seorang manusia yang sesungguhnya atau dalam kata lain yang berpendidikan. Ketika salah satu komponen tersebut hilang atau tidak dapat terpenuhi, status kependidikannya dipertanyakan. Hal ini menjadi urgen sebagai penentu nasib bangsa kedepannya, nasib kemanusiaan dan kehidupan bangsa. Dalam memanifestasikan hal ini, tentunya diperlukan perpaduan keilmuan dan kemasyarakatan. diantara upaya yang dapat dilakukan adalah pendidikan moral. Dalam kamus bahsa Indonesia, moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai penbuatan, sikap, ke-wajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila; 2  kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdi-siplin, bersedia berkorban, menderita, menghadapi bahaya, dsb; isi hati atau ke-adaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan. Pendidikan moral merupakan proses pendidikan yang berupaya memanusiakan manusia dan menghidupkan kehidupan dalam rangka mencetak kader atau generasi bangsa yang akan membaharui estafet kebangsaan ke arah yang lebih baik.

Dewasa ini perhatian terhadap pendidikan moral dirasa kurang mendapat perhatian secara lugas dalam arti pendidikan formal. Akan tetapi yang lebih menonjol saat ini adalah bagaimana mencetak ilmuan dan kaum intelek dengan pengetahuan-pengetahuannya. Tidak salah memang jika kita berpengetahuan yang luas, akan tetapi jika tidak diimbangi dengan sikap moral yang baik potensi keilmuan itu tidak akan memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dalam arti sikap moral di sini menjadi kontrol diri untuk meminimalisir ruang gerak hal-hal yang negatif dan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Karakteristik orang yang seperti itu merupakan ciri dari manusia yang bermoral. Hal itulah yang harus menjadi perhatian yag cukup urgen dalam membangun bangsa yang baik. Bangsa yang baik adalah bangsa yang dibangun dari karakter yang baik. Begitulah mungkin hukum alam yang dapat dimengerti. Suatu rangsangan positif, maka responnya pun akan positif.

Kehidupan sosial dipengaruhi oleh dinamika kehidupan dengan heterogenitasnya dalam masyarakat. Dengan adanya hal tersebut, tak jarang dinamika berbuah konflik, bahkan tak jarang pula konflik tersebut mengakibatkan korban jiwa. Suatu fenomena yang tentunya tidak ingin terjadi. Salah satu kontrol sosial yang dapat meminialisir terjadinya penyimpangan dinamika ke arah yang negatif, merupakan salah satu fungsi sosial dari moral. Dengan diperhatikannya moral, maka stabilitas kehidupan akan terpelihara sehingga kestabilan kehidupan bermasyarakat pun akan mengikutinya.

Banyak fenomena moral yang terjadi di asia belakangan ini, misalnya fenomena penindasan umat islam di Rohingya. Fenomena itu terjadi karena setidaknya sebagai salah satu dampak dari tidak tegasnya moralitas orang-orang dalam hal menyelesaikan masalah dengan penindasan dan penganiayaan.

Untuk dapat mengaplikasikan penddidikan moral dalam rangka meminimalisir hal negatif, terdapat beberapa pendekatan pendidikan moral yang dapat diimplementasikan, serta dapat digunakan dalam konsep pembelajaran. Meskipun demikian, diantara pendekatan-pendekatan ini tidak semuanya dapat diimplementasikan, mengingat kepada kebutuhan dan kesesuaian objektifitas. Diantara pendekatan-pendekatan yang dapat diimplementasikan antara lain sebagai berikut :

  • Pendekatan Orientasi Nilai

Salah satu usaha awal adalah memberikan informasi mengenai apa yang akan dijadikan alat dan objek. Fokus utama dalam orientasi nilai ialah memberikan informasi dan pencerahan mengenai apa yang disebu dengan nilai, yang nantinya akan berkembang menjadi mindset masyarakat. mindset yang akan menjadi standard tingkah laku moral yang menjadi acuan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, kehidupan peribadi dalam berhubungan dengan orang lain.

  • Pendekatan Interpretasi Nilai

Interpretasi akan memberikan pemahaman lebih dalam memahami nilai dan moral. Fokus utama pendekatan interpretasi nilai ialah memberikan kemahiran dalam memandang secara logis dan sistematis terhadap suatu permasalah atau isu yang ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat. Hasil dari interpretasi masalah ini akan didapatkan solusi-solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikannya dengan pertimbangan pemikiran yang dimilikinya  Pendekatan ini harus diimbagi dengan fakta yang releven dalam mengambil keputusan. Pendekatan ini akan melibatkan pelaku secara aktif dalam proses interpretasi nilai dan moral secara objektif yang berasaskan kepada fakta yang relevan.

  • Pendekatan Implementasi Nilai

Pendekatan implementasi nilai memberikan bimbingan kepada pelaku untuk dapat menerapkan nilai yang telah dipelajarinya dalam rangka membentuk kesadaran terhadap emosi, nilai peribadi dan hubungan komunikasi dengan orang lain secara terbuka. Pendekatan ini ditopang dengan pemikiran rasional dan kesedaran emosional diri sendiri dan orang lain dalam pembentukan mindset. Dalam prose pendekatan implementasi nilai ini, pendidik berperanan sebagai fasilitator dan pemberi contoh. Pendidik dapat menerima setiap keputusan yang diambil oleh pelajar secara objektif. Dengan sendirinya, masalah akan muncul sekiranya keputusan pelajar bertentangan dengan nilai di masyarakat. Untuk mengatasinya, pendidik harus memiliki kepekaan dan mampu menggambungkan pendekatan ini dengan pendekatan lainuntuk meluruskan dan menyelesaikannya.

  • Pendekatan Perkembangan Moral Kognitif

Pendekatan perkembangan moral kognitif ini berdasarkan kepada teori perkembangan moral kognitif yang telah dikaji oleh para ahli psikologi perkembangan seperti Piaget (1932) dan Kohlberg (1975). Pendekatan ini bertujuan untuk membimbing seseorang mengembangkan pertimbangan moral secara peringkat, yaitu bermula dari peringkat mematuhi peraturan moral kerana takut hukuman, hingga peringkat berotonomi di mana keputusan moral ialah berasaskan kepada prinsip moral secara menyeluruh. Salah satu contoh mengimplementasikannya dapat berupa sikap terbuka seorang guru dalam menerima pendapat pelajar, dan membimbing mereka dalam meningkatkan tahap moral mereka. Yang menjadi fokus dalam pendekatan ini ialah proses (struktur) pertimbangan. Oleh kerana pendekatan ini lebih memokuskan kepada aspek kognitif moral, maka guru perlu menggunakan pendekatan lain supaya aspek moral kogntif diberikan penekanan yang setara.

  • Pendekatan Pembelajaran Koperatif

Pendekatan pembelajaran secara koperatif akan mewujudkan suasana pembelajaran yang kondusif yang nantinya akan menghasilakan sikap saling kerjasama dalam pembinaan perilaku antar pelajar, sesuai dengan nilai dan norma yang telah diajarkan. Pendekatan pembelajaran secara kooperatif dapat mewujudkan kepekaan emosional, pandangan kesefahaman, dan saling menghormati satu dengan yang  lain untuk kebaikan bersama. Sikap yang diwujudkan dari pendekatan ini, nantinya akan menjadi sebuah control sosial dikalangan pelajar dalam rangka kerjasama pembelajaran dan kerjasama pembinaan nilai dan moral di masyarakat.

Dari berbagai pendekatan di atas, diharapkan terjadinya perubahan kearah stabilisasi kehidupan sosial. Dengan berubahnya hal tersebut diharapkan akan mendatangkan kehidupan yang dihuni oleh manusia yang seutuhnya.