KEKURANGAN ADALAH JALAN KESUKSESANKU

Mentari yang terbit di kala aku terbangun dari mimpi lelapku menyinari kamar jendelaku yang sudah tak tertutupi gordeng lagi, karena ibu terlah membukanya untuk memberi kesempatan udara mensirkulasi kamarku. Disnilah aku hidup, disinilah aku merangkai pengalaman dan disinilah aku mencoba menatap dunia. Disini di rumah kecil milik kedua orangtua tuaku.

Rumah kedua orangtuaku cukup jauh dari peradaban kota, terbangun di pelosok pedalaman desa, berdiri di bawah kaki gunung yang lebih kokoh dibanding dengan rumah kecilku. Namun bagaimanapun keadaannya aku bersyukur masih memiliki atap untuk berlindung dari ganasnya terik mentari dan ganasnya serangan air hujan, dan aku bersyukur masih memiliki alas untuk aku terbaring saat raga lelah menjalani kehidupan untuk beristirahat di kala senja menjemput.

Aku hanyalah anak desa yang tidak terlalu pintar, yang kurang pergaulan, dan gagap akan teknologi yang berkembang sekarang. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus keluarga kecilku. Ayahku hanyalah seorang pedagang kecil yang kerap berpenghasilan pas untuk mencukupi kebutuhan hidup keluaarga.

Begitu buruknya keadaan hidupku yang tidak seberuntung orang lain. Namun pikiran itu aku buang jauh-jauh, karena hanya akan merusak karakterku dimasa mendatang. Aku tetap bersyukur dengan keadaan apapun karena aku selalu yakin bahwa Allah selalu memiliki rencana yang indah dalam setiap perjalanan hidup hambanya. Dan aku pun bersyukur dikaruniai orangtua yang sangat menyayangiku, yang menjadi sumber semangatku, yang memberikan inspirasi dalam kehidupanku, dan menjadi pembimbingku untuk selalu berada di jalan Allah.

Aku memiliki keinginan yang sama dengan anak lainnya, aku ingin merasakan pendidikan yang layak, dan tinggi seperti kebanyakan orang lain. Namun keinginan itu selalu terbayang berat dalam pikiranku, mengingat konidisiku sekarang ini.

Ketika di sekolah aku selalu berusaha dan aktiv mencari beasiswa yang dapat mengantarkanku ke pintu perguruan tinggi, dengan bertanya kepada guru-guru kehidupanku dan meminta bantuan kepada mereka. Alhasil apa yang aku cari dengan penuh kesulitan akhirnya kudapatkan. Guru-guru kehidupanku selalu berkata kepadaku agar aku lebih semangat dan lebih rajin lagi dalam belajar, agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu.

Ketika pendaftaran beasiswa tersebut dimulai, aku bersama guru pembimbingku melakukan pendaftaran atas nama aku dan seorang temanku. Karena fasilitas di sekolahku kurang memadai, kami pun merasa kesulitan dalam melakukan pendaftaran, mulai dari jaringan yang bermasalah, hingga listrik yang mati. Namun tanpa lelah kami terus mencoba, hingga akhirnya proses pendaftaran pun selesai. Setelah itu,  guruku menyuruh untuk melengkapi persyaratan beasiswa tersebut kepadaku.

Dengan kasih sayang yang Allah anugerahkan, akhirnya aku diizinkan untuk mendapatkan beasiswa tersebut, hingga akhirnya aku bias masuk perguruan tinggi negeri. Aku memilih Universitas Pendidikan Indonesia sebagai tempat aku mencari dan mengkaji ilmu. Di salah jurusan Pendidikanlah aku bergelut dengan berbagai macam mata kuliah yang terkadang membuat hidup menjadi berat karena tugas yang terus-menerus datang.

Pikiranku saat itu adalah bagaimana aku dapat mengatur waktu hidupku untuk bisa memenuhi semuanya tanpa harus ada pilih kasih. Waktu pun berjalan dan hari-hariku penuh dengan kekhawatiran, melihat kondisi akademikku. Terkadang aku merasa lebih dalam beberapa hal, akan tetapi merasa paling bawah dalam beberapa hal juga. Sebuah kondisi yang sangat tidak sehat jika terus aku pikirkan.

Melihat keadaan yang seperti ini, aku pun mulai melakukan perubahan sedikit demi sedikit dan dalam ruang lingkup yang kecil. Dari sanalah hidupku mulai berangsur membaik. Aku mulai sering memohon didoakan kepada kedua orangtuaku, berdiskusi dengan beberapa orang yang memiliki kredibilitas di atasku, meminta nasihat dan bergaul bersama orang-orang yang bisa membawaku kea rah yang lebih baik.

Dengan cara yang seperti itulah kondisiku berangsur membaik. Kestabilan yang aku harapkan pun mulai bisa terlihat dalam hidupku. Orientasi dalam kuliah pun sedikit demi sedikit mulai terang menuju masa depan yang terbaik.

 Mengapa semua itu aku lakuka, padahal sifatku ini kurang bisa bergaul dengan orang, pendiam dan apatis. Pada awalnya ku melupkan semua itu, tak peduli aku ini siapa dan bagaimana, yang terpikir olehku hanyalah bagaimana aku dapat mencapai hasil yang memuaskan dan dapat menjadi kebanggaan selama menjalani perkuliahan. Dengan tekad yang seperti itu, secara tidak langsung aku pun merubah sifatku yang tentunya kea rah yang lebih baik.

Demikian secoret kisahku, aku hanya ingin berpesan, jangan pernah menganggap rendah terhadap diri sendiri karena kita berasal dari orang yang kurang beruntung, berasal dari tempat yang kumuh, atau pun karena kemampuan yang kurang mempuni. Buang jauh semua pikiran tersebut, disini semuanya sama sebagai mahasiswa dengan peluang yang sama untuk meraih kesuksesan. Orang-orang besar, semuanya berawal dari orang kecil yang dianggap remeh oleh orang lain. Jangan takut bermimpi tapi takutlah jika tak punya mimpi. Jangan minder dalam perjalanan menuju sukses, tetapi minderlah jika kita terjerumus dalam hal yang buruk. Semuanya memiliki hak untuk  meraih asa di kampus harapan. Gambarpen