Siklus kehidupan Manusia tidak akan lepas dari kebutuhan untuk menunjang kehidupannya, baik kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier sekalipun. Salah satu kegiatan yang banyak diminati agar terpenuhinya hal itu adalah berbisnis.
Berbicara masalah bisnis, dalam catatan sejarah, kita tahu bahwa dunia pernah memiliki seorang businessman yang luar biasa hebatnya, yaitu Rasulullah Saw. Alokasi beliau dalam berbisnis pun lebih lama dibandingkan dengan berdakwah, yaitu 25 tahun. Ini menjadi sebuah indikasi bahwa kegiatan berbisnis sudah dibudayakan sejak zaman dulu dan menjadi kegiatan yang presentatif dalam mencari keuntungan. Dan dalam waktu 25 tahun itu Rasulullah berhasil membangun kerajaan bisnisnya.
Semua itu bisa dilalui beliau dengan gemilang, lantaran energi cinta yang menjadi modal dasar dan utama beliau, selalu beliau pelihara hingga Allah memanggilnya, dengan dilandasi dengan cinta kepada Allah Swt. yang yang diaplikasikan dengan cinta pada diri sendiri, cinta pada pekerjaan, cinta pada konsumen, cinta pada bawahan, cinta pada pimpinan, cinta pada pesaing.
Cinta merupakan segala sesuatu yang dilakukan, pengorbanan yang dibuat, pemberian diri, seperti seorang ibu yang melahirkan anaknya ke dunia. Maka apa jadinya bila bisnis tanpa warna cinta didalamnya, semua itu hanya akan menjadi nihil tanpa makna. Dunia bisnis akan penuh dengan kecurangan, kejahatan dan kebohongan serta persaingan yang tidak sehat dan menghalalkan segara cara dengan alasan demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dengan alasan tersebut banyak orang melakukan kegiatan berbisnis dengan segala macam cara tanpa memperhatikan halal dan haramnya. Padahal ketika sesuatu yang kita kerjakan telah melanggar ketentuan Allah, maka tidak ada berkah didalamnya. Dan yang akan didapatkan dari gaya bisnis seperti itu, hanyalah orang-orang berharta yang miskin hatinya. Maka tak heran jika belakangan ini, banyak kasus-kasus kejahatan dalam dunia bisnis, baik dalam skup Lokal maupun Global, baik dalam segi transaksi atau pun barang yang diperdagangkan yang tentunya merugikan banyak pihak, terutama konsumen. Misalnya, bahaya susu formula akibat bakteri, penipuan dan kasus lainnya yang lumayan miris unntuk didengar. Hal ini terjadi dikarnakan tidak dikaitkan prinsip cinta dan kasih sayang dalam bisnisnya, sehingga tidak memperhatikan kepentingan orang lain, baik relasi maupun konsumen karena terlalu sibuk memikirkan keuntungan.
Rasulullah Saw. memerintahkan kepada ummatnya agar selalu memulai sesuatu dangan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Jika penulis analisa, perintah diatas mengandung ajaran cinta dan kasih sayang yang luar biasa, sebagaimana yang termaktub dalam sifat Allah Swt.
Namun paradigma berfikir para businessman sekarang selalu mengklaim bahwa modal bisnis yang paling utama adalah uang. Padahal uang bukanlah sesuatu yang menjadi proritas utama dalam menjalankan bisnis. Bos Primagama, Prudie E.Chandra (2010 : 108) mempopulerkan jurus jitu dalam berbisnis, jika seseorang tidak memiliki modal uang untuk memulai bisnisnya. Jurus tersebut dikenal dengan BODOL (Berani, Optimis, Duit, Orang Lain). Menurut konsep ini, ternyata uang tidak selalu memjadi prioritas utama dalam memulai bisnis, dan apabila dikorelasikan dengan cinta dan kasih sayang maka akan tercipta suatu konsepsi bisnis yang luar biasa.
Relevansi cinta sebagai modal bisnis ternyata sangat berpengaruh terhadap proses sirkulasi guna tercapainya kesuksesan dalam berbisnis. Sehingga tidak terjadi berbagai kejahatan ataupun kecurangan dan kebohongan dalam dunia bisnis. Karena dengan cinta dan kasih sayang yang diaplikasikan dalam bisnis tersebut akan memberikan pengaruh positif serta harmonisasi antar pihak-pihak yang terkait didalamnya, serta akan tercipta kegiatan bisnis yang didasari kejujuran.